Apa arti "redup" dalam bahasa Malaysia?


Apa arti "redup" dalam bahasa Malaysia? Definisi, konsep dan penggunaan kata Malaysia "redup" dengan contoh ilustrasi.

redup:

redup 1. berawan (langit), tidak terang (cuaca), mendung: hari pun ~, tiadalah tampak akan cahaya matahari; 2. agak gelap kerana dilindungi awan, tidak panas terik: matahari ~; 3. berasa panas (kerana cuaca mendung); 4. ki kurang cahayanya, suram (mata, wajah, dll), kurang terang atau hampir padam (nyala api); 5. berkurang, merosot (kemegahan, kemuliaan, dll); 6. mulai berhenti, tenang kembali, reda (angin, hujan, kasih, dll): ribut itu pun ~; 7. sayup-sayup (bunyi-bunyi): gemercik air sayup-sayup dan desau angin ~; 8. tidak gembira, susah hati (perasaan dll): ia menyahut dgn ~; ~-~ alang = ~-~ bahasa agak redup (gelap, suram) sedikit; meredup menjadi redup (tidak terang); meredupkan menjadikan redup, menyuramkan, dll; keredupan perihal redup: ~ petang menambahkan kesunyian di ladang itu..

Support by: TuDienSo.com
Bagikan postingan ini:

Apa arti "redup" dalam bahasa Malaysia?


redup - Arti dalam bahasa Malaysia.

  • redup
    1. berawan (langit), tidak terang (cuaca), mendung: hari pun ~, tiadalah tampak akan cahaya matahari; 2. agak gelap kerana dilindungi awan, tidak panas terik: matahari ~; 3. berasa panas (kerana cuaca mendung); 4. ki kurang cahayanya, suram (mata, wajah, dll), kurang terang atau hampir padam (nyala api); 5. berkurang, merosot (kemegahan, kemuliaan, dll); 6. mulai berhenti, tenang kembali, reda (angin, hujan, kasih, dll): ribut itu pun ~; 7. sayup-sayup (bunyi-bunyi): gemercik air sayup-sayup dan desau angin ~; 8. tidak gembira, susah hati (perasaan dll): ia menyahut dgn ~; ~-~ alang = ~-~ bahasa agak redup (gelap, suram) sedikit; meredup menjadi redup (tidak terang); meredupkan menjadikan redup, menyuramkan, dll; keredupan perihal redup: ~ petang menambahkan kesunyian di ladang itu..
  • Tentang bahasa Malaysia

    Tentang bahasa Malaysia

    Bahasa Malaysia adalah sebuah istilah gagasan politik bahasa nasional bagi negara Malaysia sebagai bentuk tentangan bagi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa resmi negara berdaulat Indonesia. Sekalipun bukan merupakan bahasa yang nyata dan tidak diakui secara resmi, gagasan politik yang disebut sebagai "bahasa Malaysia" ini diklaim memiliki penutur lebih dari 10 juta orang yang tak lain adalah orang Malaysia sendiri yang mayoritasnya mendiami wilayah Semenanjung Malaysia. Pada faktanya, bahasa nasional negara Malaysia yang diakui secara resmi konstitusional menurut Undang-Undang Dasar Malaysia Pasal 152 (disebut sebagai "Perlembagaan Persekutuan Malaysia Perkara 152" di Malaysia) adalah bahasa Melayu sesuai dengan isi pasal yang berbunyi: "Bahasa kebangsaan ialah bahasa Melayu".

    Bahasa ini disebut dengan berbagai macam nama, namun nama yang paling dikenali yaitu "Bahasa Melayu" dan "Bahasa Malaysia". Meskipun begitu, di Malaysia kekeliruan telah muncul dalam kalangan rakyatnya mengenai nama apakah yang patut digunakan sebagai nama resmi di negara tersebut.

    Pada masa kemerdekaan Malaysia, Tunku Abdul Rahman sebagai Perdana Menteri pertama memperkenalkan istilah "Bahasa Malaysia" sebagai bahasa kebangsaan Malaysia. Istilah ini kemudian digunakan secara meluas. Sebenarnya istilah bahasa Malaysia itu sendiri tidak disumbangkan oleh YAB Tunku Abdul Rahman, tetapi timbul secara spontan setelah kejadian 13 Mei 1969. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam liputan media massa saat itu. Pada saat itu terwujudlah semacam persetujuan umum mengenai istilah bahasa Malaysia, namun Undang-undang Malaysia tidak berubah.

    Pada tahun 1986, istilah "Bahasa Malaysia" diganti menjadi "Bahasa Melayu". Berdasarkan Perkara 152 Perlembagaan Persekutuan Malaysia, "bahasa kebangsaan Malaysia yaitu bahasa Melayu".

    Pada tanggal 4 Juni 2007, kabinet Malaysia membuat keputusan untuk menggantikan penggunaan "Bahasa Melayu" menjadi "Bahasa Malaysia". Kabinet tersebut mengarahkan semua kementerian, universitas, dan perguruan tinggi untuk memberitahu departemen dan instansi terkait untuk menggunakan istilah "Bahasa Malaysia" dalam surat-menyurat, catatan dan dokumen. Kebijakan tersebut sebagai dukungan untuk menanamkan semangat perpaduan dalam kalangan rakyat Malaysia yang beragam kaum yaitu Melayu, Cina, Arab, dan India.[5][6][7] Pada 5 November 2007, Menteri Penerangan Malaysia, Datuk Seri Zainuddin Maidin, menegaskan lagi bahwa penggunaan istilah baru "Bahasa Malaysia" merupakan muktamad atau dalam kata lain dapat dijadikan pegangan.