Apa arti "kuak II" dalam bahasa Malaysia?


Apa arti "kuak II" dalam bahasa Malaysia? Definisi, konsep dan penggunaan kata Malaysia "kuak II" dengan contoh ilustrasi.

kuak II:

kuak II ?gerakan menolak air dgn tangan semasa berenang;~ dada gaya renang dgn dada menghadap ke air, tangan bergerak dlm bentuk bulatan dan kaki menendang spt katak; ~ kupu-kupu gaya renang dgn kedua-dua tangan mencecah air pd posisi siku yg tinggi sambil menarik air serentak, manakala kaki membuat tendang duyung; ~ lentang gaya renang dgn kedudukan badan terlentang, dgn tangan diangkat dr sisi badan, lurus ke atas dan melepasi bahu sehingga mencecah air di belakang kepala; berkuak, terkuak 1. terbuka sedikit (bkn daun pintu, tabir, dll yg ditolak): pintu terkuak lebar; 2. merenggang dan bercelah-celah (bkn awan, daun-daun yg bergerak dsb): awan hitam pun ~; 3. menyisi (menghindar) ke kiri ke kanan (bkn orang atau sesuatu yg berkumpul): barang di mana ia lalu orang-orang ~ memberi ia jalan; 4. menjadi besar atau lebar (bkn lubang dll), berpisah (dgn); ~ (terbuka) darah tersirap darah; menguak melantasi (menembusi) barisan atau orang ramai yg berkerumun dgn menolaknya dgn tangan ke kiri dan ke kanan: dgn susah payah ia ~ ke celah-celah orang yg berasak-asak itu; menguakkan menyingkap (membuka) dgn menolak atau menarik ke kiri ke kanan (daun pintu, tabir, dll), menyisikan (menepikan, menghindarkan) ke kiri ke kanan, memisahkan: ia ~ daun pintu lebar-lebar; ~ kelambu (tirai dll); orang berlarian hendak menolongnya tapi dikuakkannya mereka; ia ~ daun-daun serta sampah-sampah yg menutupi kubur itu ke tepi..

Support by: TuDienSo.com
Bagikan postingan ini:

Apa arti "kuak II" dalam bahasa Malaysia?


kuak II - Arti dalam bahasa Malaysia.

  • kuak II
    ?gerakan menolak air dgn tangan semasa berenang;~ dada gaya renang dgn dada menghadap ke air, tangan bergerak dlm bentuk bulatan dan kaki menendang spt katak; ~ kupu-kupu gaya renang dgn kedua-dua tangan mencecah air pd posisi siku yg tinggi sambil menarik air serentak, manakala kaki membuat tendang duyung; ~ lentang gaya renang dgn kedudukan badan terlentang, dgn tangan diangkat dr sisi badan, lurus ke atas dan melepasi bahu sehingga mencecah air di belakang kepala; berkuak, terkuak 1. terbuka sedikit (bkn daun pintu, tabir, dll yg ditolak): pintu terkuak lebar; 2. merenggang dan bercelah-celah (bkn awan, daun-daun yg bergerak dsb): awan hitam pun ~; 3. menyisi (menghindar) ke kiri ke kanan (bkn orang atau sesuatu yg berkumpul): barang di mana ia lalu orang-orang ~ memberi ia jalan; 4. menjadi besar atau lebar (bkn lubang dll), berpisah (dgn); ~ (terbuka) darah tersirap darah; menguak melantasi (menembusi) barisan atau orang ramai yg berkerumun dgn menolaknya dgn tangan ke kiri dan ke kanan: dgn susah payah ia ~ ke celah-celah orang yg berasak-asak itu; menguakkan menyingkap (membuka) dgn menolak atau menarik ke kiri ke kanan (daun pintu, tabir, dll), menyisikan (menepikan, menghindarkan) ke kiri ke kanan, memisahkan: ia ~ daun pintu lebar-lebar; ~ kelambu (tirai dll); orang berlarian hendak menolongnya tapi dikuakkannya mereka; ia ~ daun-daun serta sampah-sampah yg menutupi kubur itu ke tepi..
  • Tentang bahasa Malaysia

    Tentang bahasa Malaysia

    Bahasa Malaysia adalah sebuah istilah gagasan politik bahasa nasional bagi negara Malaysia sebagai bentuk tentangan bagi bahasa Indonesia yang merupakan bahasa resmi negara berdaulat Indonesia. Sekalipun bukan merupakan bahasa yang nyata dan tidak diakui secara resmi, gagasan politik yang disebut sebagai "bahasa Malaysia" ini diklaim memiliki penutur lebih dari 10 juta orang yang tak lain adalah orang Malaysia sendiri yang mayoritasnya mendiami wilayah Semenanjung Malaysia. Pada faktanya, bahasa nasional negara Malaysia yang diakui secara resmi konstitusional menurut Undang-Undang Dasar Malaysia Pasal 152 (disebut sebagai "Perlembagaan Persekutuan Malaysia Perkara 152" di Malaysia) adalah bahasa Melayu sesuai dengan isi pasal yang berbunyi: "Bahasa kebangsaan ialah bahasa Melayu".

    Bahasa ini disebut dengan berbagai macam nama, namun nama yang paling dikenali yaitu "Bahasa Melayu" dan "Bahasa Malaysia". Meskipun begitu, di Malaysia kekeliruan telah muncul dalam kalangan rakyatnya mengenai nama apakah yang patut digunakan sebagai nama resmi di negara tersebut.

    Pada masa kemerdekaan Malaysia, Tunku Abdul Rahman sebagai Perdana Menteri pertama memperkenalkan istilah "Bahasa Malaysia" sebagai bahasa kebangsaan Malaysia. Istilah ini kemudian digunakan secara meluas. Sebenarnya istilah bahasa Malaysia itu sendiri tidak disumbangkan oleh YAB Tunku Abdul Rahman, tetapi timbul secara spontan setelah kejadian 13 Mei 1969. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam liputan media massa saat itu. Pada saat itu terwujudlah semacam persetujuan umum mengenai istilah bahasa Malaysia, namun Undang-undang Malaysia tidak berubah.

    Pada tahun 1986, istilah "Bahasa Malaysia" diganti menjadi "Bahasa Melayu". Berdasarkan Perkara 152 Perlembagaan Persekutuan Malaysia, "bahasa kebangsaan Malaysia yaitu bahasa Melayu".

    Pada tanggal 4 Juni 2007, kabinet Malaysia membuat keputusan untuk menggantikan penggunaan "Bahasa Melayu" menjadi "Bahasa Malaysia". Kabinet tersebut mengarahkan semua kementerian, universitas, dan perguruan tinggi untuk memberitahu departemen dan instansi terkait untuk menggunakan istilah "Bahasa Malaysia" dalam surat-menyurat, catatan dan dokumen. Kebijakan tersebut sebagai dukungan untuk menanamkan semangat perpaduan dalam kalangan rakyat Malaysia yang beragam kaum yaitu Melayu, Cina, Arab, dan India.[5][6][7] Pada 5 November 2007, Menteri Penerangan Malaysia, Datuk Seri Zainuddin Maidin, menegaskan lagi bahwa penggunaan istilah baru "Bahasa Malaysia" merupakan muktamad atau dalam kata lain dapat dijadikan pegangan.